Tampilkan postingan dengan label Biker Fenomena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biker Fenomena. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Oktober 2010

Lady Biker Di Sekolah!

Nggak kalah dengan rider cowok...
(http://blogombal.org)


Sekitar lima atau sepuluh tahun yang lalu, populasi wanita yang menggunakan sepeda motor tidaklah sebanyak sekarang. Di waktu itu, kebanyakan wanita hanya memposisikan sebagai boncenger. Tapi tidak untuk sekarang. Populasi wanita yang menggunakan sepeda motor sudah jamak ditemui di jalan-jalan raya, baik di ibukota maupun di daerah. Jangankan sekedar jadi lady biker, yang jadi pembalap profesional pun sudah banyak. Wanita pengguna sepeda motor ini memang kebanyakan berusia muda. Malah bisa dikata, bahwa gadis remaja yang tidak bisa menaiki sepeda motor akan dicap ketingalan jaman oleh kawan-kawannya. Fenomena ini terjadi karena selain kemajuan jaman, tuntutan profesi, juga proses kepemilikan sepeda motor yang semakin hari semakin mudah, cukup dengan DP 500 ribu rupiah (malah ada yang lebih murah!) motor sudah bisa dibawa pulang. Tentu saja diikuti kewajiban membayar cicilan per bulannya he.. he…

Rabu, 08 September 2010

Trending : Sahur On The Road!

Berbagi kasih di bulan suci.
Image source : http://tickemayoranbiker.wordpress

 Dari tahun ke tahun, fenomena Sahur On The Road (SOTR) terasa semakin meriah saja. Tidak ada data yang jelas siapa pencetus dan penama kegiatan ini sehingga disebut sebagai Sahur On The Road. Berdasarkan pengamatan penulis, kegiatan SOTR ini masih didominasi oleh klub atau komunitas otomotif baik roda 2 maupun roda 4. Dan sepertinya dari klub atau komunitas otomotif inilah asal muasal penamaan kegiatan ini. Pelakunya pun didominasi oleh anak-anak muda. Terkadang kegiatan ini merupakan kegiatan kolektif atau kerjasama. Beberapa klub atau komunitas otomotif saling bekerja sama, menggandeng instansi/perusahaan/sponsor bahkan pihak kepolisian untuk mengadakan kegiatan ini.

Kamis, 24 Juni 2010

Musim Libur, Terpaksa Jadi Biker!


Jika sehari-harinya saya menggunakan angkot untuk berangkat pulang kerja dengan jalur Cisarua-Cibubur-Cisarua, maka selama musim liburan sejolah di bulan Juni-Juli ini saya memutuskan untuk merubah sarana transportasi saya itu, yaitu dengan menggunakan sepeda motor. Maklum sepanjang jalan sepanjang hari, jalanan puncak dari Ciawi, Gadog dan jalan raya Puncak selalu macet. Terkadang jam 9 pagi kemacetan sudah dimulai hingga jam 11 malem. Kebanyakan ya oleh mobil dan bis asal Jakarta yang ingin menikmati liburan di sekitar Puncak. Jadinya pak polisi menggunakan sistem buka tutup untuk mengantisipasi kemacetan itu. Biasanya, saya menggunakan sepeda motor kesayangan saya itu (karena satu-satunya!) paling-paling jika hari Sabtu ada acara di Sekolah atau hari-hari dimana aktivitas mengajar olahraga saya tidak terlalu padat. Jika full mengajar di lapangan dan saya pulang pergi dengan menyemplak sepeda motor honda tiger itu, pasti saya bakalan tepar kecapaian. Maklum jalur sepeda motor Cisarua-Ciawi-Jalan Raya Bogor-Cibubur tidak terlalu ramah untuk sepeda motor. Sudah ramai, padat, banyak pabrik, mall, pasar, pedagang dan pengendara motor yang srunthal-srunthul semaunya sendiri. Ya, jalur ini memang jalur favorit dan satu-satunya dari arah Bogor, Depok, Cibinong ke Jakarta, selain jalan tol tentunya.

Kamis, 29 April 2010

5 Keseimbangan Honda Tiger

 Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang fenomena ini. Kata keseimbangan dalam judul sama sekali tidak mengacu kepada pemahaman dan ulasan bidang keilmuan fisika atau katakanlah aerodinamis. Tidak, karena apa yang tertulis itu lebih mengacu kepada pernyataan dari pihak AHM sejak tiger baru (baik yang revo maupun yang asimetris lamp) diluncurkan. Saya masih ingat betapa masyarakat motor waktu itu banyak yang mengkritik habis-habisan pihak AHM karena mengeluarkan motor tiger baru yang masih mengusung mesin 200 cc (beberapa pihak menyebutnya mesin lawas, padahal yang betul adalah mesin baru dengan kapasitas lawas alias sama). Masyarakat motor yang pecinta tiger kecewa berat karena mereka menginginkan tiger baru itu keluar dengan cc lebih besar (minimal 250 cc), bahkan bila perlu dengan model sport habis layaknya kawasaki ninja atau motor super bike lainnya. Keinginan yang wajar mengingat para “penggugat” itu rata-rata memang tiger minded alias cinta mati dengan honda tiger, sehingga tiger yang baru itu seharusnya cukup bisa dibanggakan dan mampu mengalahkan motor-motor lainnya, baik dari sisi penampilan maupun performa-nya.